mochacafe:

via ohsopictures

mochacafe:

via ohsopictures

(Source: mochacafe.info, via abstractdreamz)

12.08.11.

4072

Kata, Diri, dan Cinta

Aku memulai percakapan ini, berharap, berpikir, dan, menunggu. Selaput diri yang penuh warna. Aku tidak tahu saat ini sedang berada di mana. Mungkin baru kali ini aku memberanikan diri  kukatakan aku sudah hidup dan menetap di surga. Setidaknya hanya untuk sementara. Surga yang penuh nikmat ini sementara dan sangat fana. Bayang-bayang kerap membuntutiku seolah dia menjadi aku di masa lalu. Aku tidak tahu saat ini berada di mana. Suara-suara mengejar dan dikejarku, bisikan-bisikan menyesatkan namun menyehatkan. Sepertinya surgaku ini penuh ampunan, tidak perlu ada ketakutan, dan kita semua saling percaya bahwa saat ini kita sudah menetap di surge. Setidaknya hanya untuk sementara.

Terima kasih kepada kamu yang membaca prolog saya, sekarang juga saya akan bercerita mengenai diri saya yang sempat hidup di surga. Nama saya Arjuna. Usia saya 24 tahun, untuk umuran saya, Panah menjadi senjata ideal untuk melumpuhkan dunia. Saya Arjuna yang mudah jatuh cinta. Cinta pertama saya bernama Parasti Merdeka Sita. Dia fotografi bagiku. Foto yang tetap ada dan selalu ada di dalam kepalaku. Dia visual mati yang mudah aku tinggalkan dan meninggalkanku. Keindahan dan romantisme nampaknya menjadi rindu yang memisahkan rasa saling percaya. Kita berpisah. Fotografiku, fotografimu. Cinta pertama tidak selalu selamanya.

Cinta kedua saya bernama Sastra. Dia tidak punya nama lengkap atau nama belakang. Namanya cukup, Sastra. Dia hampir membuatku gila. Aku dibawa ke dalam lapis 3 dunia. Masa kini, masa lalu, dan masa depan bisa menyatu di dalan berbagai metode dan teori. Masa lalu psikoanalisis, masa kini semiotika, dan masa depan adalah struktural. Sastra kekasihku, kamu terlalu cantik untuk kumiliki. Aku belum pantas menjadi pendamping imajinasimu. Aku tersesat berdua dan bercinta denganmu. Aku terang dan gelap secara sekaligus dan bergantian. Sastra. Selamat tinggal. Kamu teralalu Naya, Naya panggilan sayangku untukmu Sastra.

Kekasihku selanjutnya bernama Ratna. Dia Dewi alur, perangkai cerita masa lalu, masa kini, dan masa depanku. Dia pendampingku, dia pendampingku. Dia sangat tenang menatap mataku. Dia gambar bergerak dari kamera yang bergerak bersamanya. Dia film nyataku. Dia Dewi Ketulusanku, mataharinya mata dia, Ratna matakamu menelanjangiku dengan penuh kasih sayang. Setulus ibu menyusui bayi yang baru dilahirkan olehnya. Alur dari sutradara yang naskahnya dipahami berdua. Musik pengantar alam nyata penuh dengan senyum dan tawa. Kebahagian yang utuh dari kisah-kisah sebelum kamu, pemberitahu kebodohan dan ketololanku, mengingatkanku mengenai kekeliruan dan ketidakkeliruan. Kamu Ratna, yang telah menyehatkanku dan menyadarkanku tentang nyata yang ternyata sederhana.

Sebelum kamu sempat singgah Dewanggarani. Dia Dewi Media pengantar kecerdasan dan kebobrokanku. Dia daya imajinasiku yang bercampur dengan mood penuh logika. Dia sempat mengantarkanku. Aku sudah berada di tempat, dia mundur dan meninggalkanku. Di tempat saat ini aku berpijak aku menemukan pendamping hidupku, semoga. Dewanggarani, biar bagaimapun aku berhutang budi padamu. Kamu menemaniku di saat aku hampir buta. Huruf, warna, dan bahasa. Semuanya kejadian yang terjadi beruntun hampir meruntuhkan kepalaku. Aku hamper berdiri memakai kepala. Tapi aku sadar, semuanya tentang nikmat menerima duka. Kesabaran dan keikhlasan, dua penghubung manusia dan Tuhan. Dewanggarani, kamu memang Dewi yang diutus untuk menemani kegilaanku.

Aku mengakhiri percakapan ini dengan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadaku. Nikmat diberi kesempatan lahir di dunia. Menjadi yang terpilih dari jutaan seleksi sperma. Entah mengapa aku selalu merasa beruntung telah dilahirkan di dunia. Aku baru saja memulai. Sekian dan terimakasih ucapku.

Jakarta dalam 3 dimensi, tanggal 7 November setahun sebelum kiamat kecil

11.06.11.

0

Pendidikan Pukul 10 Pagi

Terakhir menulis tentang pendidikan ketika sekolah seperti sumur, dasarnya adalah huruf dan angka. Ketika itu tahun 1996, sekitar tahun 1996 tepatnya, yang aku ketahui semuanya tentang papan tulis dan kapur. Berhitung dan membaca, tidak menarik. Aku dan teman-temanku lebih menyukai pukul 10, jam ketika istirahat tiba. Bermain.

Waktu itu aku menulis dengan berlari, mengejar temanku, dikejar temanku, bermain kejar-mengejar. Setiap jengkal halaman ditulis sepatu berhiaskan tawa. Pukul 10 hanya berlangsung tidak lama. Setelah itu semua kembali menemani dan ditemani papan tulis. Mengeja setiap goresan huruf dan angka. Di atasnya selalu ada potret kepala negara dan wakilnya, di sampingnya bendera merah putih berkibar di dalam ruangan tanpa angin. 

Dasarnya adalah huruf dan angka, mengeja dan menghafal tanpa diminta untuk membaca lalu langsung diberi pekerjaan rumah. Berdoa sebelum memulai semua lalu berdoa kembali setelah selesai semua sebelum pulang. Semuanya berlangsung tidak ada beda. Senin upacara, selasa-kamis selalu sama, jumat lebih pendek dari hari lainnya. semuanya menunggu pukul 10 untuk bermain dan hari sabtu dan minggu adalah liburan yang sesungguhnya.

Hari ini, tepat hari ini tanggal 28 oktober negara memperingati hari Sumpah Pemuda, memperingati seperti memperingatkan. Aku tidak tahu siapa yang memperingati dan siapa yang memperingatkan. Hanya beda morfem mungkin, mungkin juga peran.

Pendidikan seperti sumur yang digali dari tanah yang datar. Tanah permukaan yang mencari kedalaman yang ketika sudah digali justru terjerembab dan sulit untuk naik kembali. Terlalu banyak kata ‘dan’, terlalu banyak kata ‘yang’ yang dipakai yang digunakan olehku saat ini semenjak aku bisa keluar dari dasar sumur pendidikan. Aku dididik seragam semenjak umur 5, memakai kemeja putih celana merah, sepatu hitam seperti hukuman karena sifatnya yang wajib. Hari senin menjadi hari paling wajib ketika itu, wajib untuk tidak dinanti, wajib untuk segera berganti.

Upacara menghafal dan mengeja kata-kata dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Menyanyikan lagu wajib nasional. Lagi-lagi dasar dan lagi-lagi wajib seolah semua sudah ditentukan, dirumuskan, dan disepakati untuk tidak ada pilihan. Upacara seperti adat dan tradisi yang mendapatkan sangsi bila tidak diikuti dengan khidmat. Semua, hampir semua dan itu semenjak umur 5.

Terakhir menulis tentang pendidikan ketika sekolah seperti sumur, dasarnya adalah huruf dan angka. Ketika itu tahun 1996, sekitar tahun 1996 tepatnya, yang aku ketahui semuanya tentang papan tulis dan kapur. Berhitung dan membaca, tidak menarik. Aku dan teman-temanku lebih menyukai pukul 10, jam ketika istirahat tiba. Bermain.

Monster pemakan sesuatu yang sudah tertinggal. Lupa dan melupakan atau dibuat lupa pada apa saja yang sudah dilewati. Pendidikan adalah? marilah mulai dengan tidak menggunakan definisi. Definisi membuat lupa dan lupa melahirkan definisi.

Semenjak umur 5 aku diajarkan untuk membunuh kejenuhan dan kebosanan. Rumah adalah tahap pertama sebelum itu semua. Keluarga, seperti sudah dibicarakan banyak pemikir yang rela gila demi menyelami dasar dari pendidikan. Gejala psikis mengenai pendidikan. Pendidikan mengenai gejala psikis. Mengenai istilah ‘kesadaran’ yang berawal dari liyan. Ibu, berawal dari seseorang atau sesuatu yang berbeda dengan ‘diri’. Ibu, yang melahirkan yang memberi nutrisi pertama setelah tangisan pertama. Cermin pertama yang membisikan kehidupan dimulai oleh mata yang terbuka sebelum menangis. Semua tentang kasih sayang yang tidak bisa dieja, dihafal, atau dibaca apalagi dihitung. Tidak tertulis di dalam ruangan kelas dan papan tulis.

Sudah cukup kelas, tingkatan usia dan kemampuan memahami yang diberikan oleh ‘mereka’. Tidak mengizinkan untuk mencari ‘di luar’ apa yang sudah dirangkum dan disepakati. Kurikulum menjadi sejenis pendulum di kepalaku. Harus dipahami harus dikerjakan untuk dapat naik kelas untuk mendapatkan nilai dengan patokan angka oleh seseorang yang dari dulu hingga kini kukenal dengan sebutan guru.

Aspek ruang dan kelas seolah menjadi lawan dari aspek luar ruangan dan alam bebas. Bermain hanya menjadi waktu senggang dari semua dinding kotak lengkap dengan kursi dan meja serta papan tulis. Guru berdiri di depan, murid mengeja di belakang. Menyalin dan menghafal apa yang sudah tertulis dan dibacakan. Mendikte adalah pekerjaan melamuni waktu berhiaskan kata-kata tentang sesuatu yang ‘harus’ dimengerti dan dipahami. Satu arah dan linier menerjemahkan keingintahuan dan pengetahuan untuk dipahami sebagai kendaraan untuk naik kelas.

Jam bermain sudah usai saatnya kita semua kembali masuk ke dalam kelas, kembali membaca dengan mengeja, kembali memahami dengan menghafal, kembali ke dasar pemahaman yang sudah dikurikulumkan. kita tidak boleh terlambat datang atau kita tidak boleh masuk ke dalam kelas, terlalu sering absen membuat kita tidak akan mendapat nilai. Tidak ada nilai membuat kita tertinggal dan berada pada tingakatan kelas yang tetap, sedangkan ‘yang lain’ terus naik ke kelas yang lebih tinggi.

Selamat pagi bapak dan ibu guru, maaf hari ini saya datang terlambat. Jalanan hari ini terlalu padat, lalu lintas tidak memberi sekat. Rambu-rambu terlalu banyak. Saya memilih menunggu di luar, saya memilih bermain bersama teman-teman. Mohon maaf, sekali lagi. Sekian dan terima kasih.

28 Oktober 2011

10.28.11.

0
Blur - To The End

Blur

To The End

The Best Of [Limited Edition]

[Flash 9 is required to listen to audio.]

9.06.11.

0

Berharap, Menunggu, dan Berpikir

Berharap, menunggu, dan berpikir. Melamunkan diri tentang waktu, tentang mata. Sebuah segitiga: Harap, Pikir, dan Tunggu. Lalu mana yang sebaiknya lebih dulu, atau setidaknya sadar saat ini sedang berada pada kondisi yang mana. Sadar-sadar, lalu aku berpikir, ah tidak, aku sadar lalu aku menunggu, menunggu hingga berharap. Segitiga itu ada di atas langit ketika malam begitu gelap. Tiga bintang yang saling menghubungkan. Berpikir mungkin terletak di puncak segitiga, menunggu dan harapan menjadi dasar. Dasar yang tidak berwujud dan tidak dapat disentuh. Tersesat seperti sedang tersesat, atau mungkin memang benar-benar tersesat.

Jakarta, 7 September 2011

9.06.11.

0